BAIQ DESI LUTHFIANA
Bahasa Sasak yang berkembang di Pulau Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya (Jaelani, 2007. http://sasak.org/2007/11/29/menelusuri-asal-usul-papuk-baloq-kita. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2009 pukul 13.31).
Pada mulanya, dialek dalam bahasa Sasak dibagi menjadi 5 dialek. Thoir, dkk (1986: 20-24) menamai kelima dialek ini sebagai dialek Meno-Mene, Ngeno-Ngene, Ngeto-Ngete, Ngeno-Mene, dan Meriak-Meriku. Pembagian nama dialek ini didasarkan pada bentuk realisasi makna ’begini’ dan ’begitu’ pada daerah yang diamatinya. Menurut Mahsun (2006: 3-4), pembagian dialek ini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebab, peneliti tidak konsisten dalam menentukan dialek tersebut. Makna ’begini’ memiliki 22 realisasi dan makna ’begitu’ memiliki 23 bentuk realisasi. Ini berarti, jika pembagian dialek didasarkan pada bentuk realisasi kedua makna kata di atas, akan terdapat 22 atau 23 dialek dalam bahasa Sasak.
Oleh karena itu, Mahsun (2006: 72), dalam penelitiannya yang berjudul Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Sasak di Pulau Lombok, mengelompokkan bahasa Sasak menjadi 4 dialek, yakni Dialek a-a sebagai padanan Dialek Bayan (DB), Dialek a-e sebagai padanan Dialek Pujut (DP), Dialek e-e sebagai padanan Dialek Selaparang (DS), Dialek a-o sebagai padanan Dialek Aibukaq. Hal ini didasarkan pada korespondensi vokal pada struktur [V-V] keempat dialek tersebut. Pertimbangan ini lebih realistis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setelah penulis amati, bentuk-bentuk yang digunakan dalam bahasa Sasak Dialek a-e memang memiliki korenspondensi vokal akhir [a-e], misalnya bentuk mate ‘mata‘, ape ‘apa‘, bate ‘bata‘, Praye ‘Praya‘, dan kace ‘kaca‘.

3 komentar:
Terimakasih, sangat membantu dalam mempelajari dialek bahasa sasak (lombok)
it is very helpful...thanks sister
Maybe you can add some materials to explain with spesific😊 matur tampiasih
Posting Komentar