Pages

Selasa, 10 Februari 2015

KARNAVAL ....

Asal muasal nama "karnaval" masih diperdebatkan. Menurut salah satu teori, nama itu berasal dari Bahasa Latin carrus navalis("gerobak kapal"), yang mengacu pada gerobak dalam suatu pawai keagamaan, seperti gerobak yang digunakan dalam arak-arakan keagamaan pada perayaan tahunan untuk menghormati dewa Apollo. Namun menurut sumber-sumber yang lain, nama karnaval berasal dari Bahasa Italia carne levare yang berarti "mengenyahkan daging", karena daging dilarang selama masa prapaskah. Menurut teori lain, nama karnaval berasal dari ungkapan dalam Bahasa Latin Kuno carne vale, yang berarti "selamat tinggal daging", yang menunjukkan bahwa saat tersebut adalah hari-hari terakhir orang boleh makan daging sebelum berpuasa selama masa prapaskah.
(Wikipedia)

Anda mungkin bagian dari kegiatan tersebut ....
Atau mungkin sekolah kita juga bagian darinya .....


JAWA dan SASAK ..... ada kemiripan

Selama beberapa tahun tinggal di Pulau Lombok, saya sebagai salah seorang yang berasal dari Jawa merasakan adanya kemiripan antara Bahasa Sasak dan Bahasa Jawa. Ada istilah sama tapi digunakan untuk menyebut sesuatu berbeda, seperti "gedang" untuk "pepaya" sedangkan orang jawa menyebutnya untuk "pisang"; "menek" untuk buang air kecil, sedangkan orang Jawa menyebutnya untuk "naik pohon".

Ada istilah yang betul-betul sama dan digunakan untuk menyebut benda atau aktivitas yang sama, seperti "lawang" untuk pintu, "peken" untuk pasar, "tilem" untuk tidur, "mangan" untuk makan, "nggih" untuk "ya", dsb

Ada juga yang berubah sebagian saja disesuaikan dengan bahasa yang ada di Lombok, seperti "pire" dari kata "piro".

Memang dari segi sejarah bahasa ini berasal dari rumpun yang sama. Namun para ahli memperkirakan bahwa bahasa Sasak yang berkembang saat ini berasal dari Bahasa Jawa dan serapan dari Bahasa Indonesia.

Luar Biasa ......

BAHASA PAPUA .... HEMAT KATA ....


Ada sebuah cerita lucu tentang percakapan antara mahasiswa Palembang dan mahasiswa Papua. Saat itu, mahasiswa Papua sedang sibuk mencari sandal yang dipakainya. Dia lupa meletakkan sandalnya dimana. Karena dia merasa kehilangan sandalnya, ia bertanya kepada temannya. “Sa pu sandal mana e?”, kata mahasiswa Papua. Temannya yang belum banyak tahu tentang bahasa Papua itu bingung mendengar pertanyaan tersebut. Dia bingung, mahasiswa Papua ini sebenarnya mencari sandal atau sapu. Nah, kebetulan mahasiswa Palembang sedang melihat sapu dan langsung menunjukkannya kepada mahasiswa Papua. Mahasiswa Papua tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa pun tambah bingung, mengapa mahasiswa Papua itu tertawa.


Cerita di atas menunjukkan keunikan bahasa Papua, yaitu dilihat dari kosa katanya. Kata “saya” dalam bahasa Papua adalah “sa”, kata “punya” adalah “pu”. Sehingga ketika seseorang akan menyatakan kepemilikan, mereka menggunakan kata “sa pu”. Seperti contoh di atas, kata “sa pu sandal” memiliki arti “saya punya sandal”. Dalalm hal ini, kalimat itu memiliki makna “sandal saya”.Selain itu, tata bahasa Papua pun unik. Ada beberapa kata yang diimbuhi kata “kasih” di depannya dan kata “sudah” di akhir kata. Misalnya, ketika mereka ingin mengatakan “tutup pintu itu” maka mereka akan berkata “itu pintu kasih tutup sudah”. Untuk orang yang belum mengenal sama sekali kata tersebut akan merasa kebingungan dengan maksud kalimat tersebut.


Sedikit banyak, kita pasti pernah mendengar sekali atau dua kali seseorang yang berbicara dengan bahasa (atau lebih tepatnya dialek) papua. Yah, sudah mencari ciri khas dialek papua, dalam penggunaan kata banyak dilakukan penyingkatan seperti cerita di atas.


Untuk bahasa suku setempat, mereka punya bahasa daerah sendiri, bahasa suku Dani. Bahasa Daerah Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem menggunakan Bahasa-bahasa yang masuk dalam bahasa Papua dari filum Trans-New Guinea. Bahasa Daerah yang digunakan pun mempunyai perbedaan dialog dan pengucapan antar satu wilayah dengan wilayah Daerah lainnya walaupun masih berada dalam jangkauan jarak tempuh yang boleh dikatakan masih dekat.



Secara garis basar Bahasa dani dikenal dalam tiga bagian besar bahasa yaitu, bahasa dani lembah (Daerah sekitar kota Wamena/Kab.Jayawijaya), Bahasa Dani Barat (Daerah Bag Barat kota Wamena (Kab.Lany Jaya, Kab.Puncak Jaya, dan Kab Tolikara) serta Bahasa Dani Timur /Bahasa Yali (Kab Yahokimo dan Kab Yalimo). Masyarakat Lokal di Daerah Lembah Baliem sendiri sebagian besar sudah dapat menggunakan bahasa Indonesia dgn dialek Wamena/Papua. 



Berikut beberapa Kosa Kata Bahasa sehari-hari Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem Wamena 

  • Dua = Pere 
  • Ak = Kecil 
  • Eme = Sini 
  • Empat = Perenen pere 
  • Etai = Nyayian 
  • Helekir = Batu 
  • Hanomotok = Bagus
  • Hemulugar = Sedikit 
  • Hipere = Ubi 
  • Honai = Rumah Adat 
  • Huna = Udang 
  • Hunila = Dapur 
  • I = Air 
  • Isoak = alat minum yg terbuat dari Labu 
  • Kog = Besar 
  • Lani = Jalan 
  • Lauk = Selamat (buat kaum Wanita) 
  • Lima = Sikirak 
  • Moh = Matahari/Panas matahari 
  • Nait = Malas 
  • Naosa = Mama 
  • Nayak = Selamat (buat Kaum Lelaki) 
  • Neruak = Sapaan salam buat Saudara Perempuan 
  • Nopa = Kakek 
  • Nopase =Bapa 
  • 0 = Kayu 
  • Pikon = Alat musik 
  • Sabokogo = Semua 
  • Satu = Opakiat 
  • Sue = Barung 
  • Tiga = Henagan 
  • Wam = Babi 
  • Yak = Pangilan buat Pria remaja/pemuda 
  • Yeke= Anjing 
  • Yekerek = Panggilan buat anak lelaki
Contoh penggunaan :
Dulu, penduduk kulit putih masih menjadi minoritas, ketika masyarakat asli suku Dani melihat anak berkulit putih, maka mereka berkata : "Yekerek hanomotok, yekerek hanomotok" (arti : "anak ini cakep sekali", kira-kira seperti itu terjemahannya).

Ya, salah satu ragam bahasa daerah di Indonesia yang patut dibanggakan.

Itu sudah.

***

- dikutip dari berbagai sumber dengan pengubahan dan penambahan seperlunya :)

Jumat, 06 Februari 2015

MENGENAL DIALEK MINANG

Salah satu ciri khas adat minangkabau adalah bahasa yakni bahasa minang. Di Indonesia terdapat berbagai propinsi dari sabang sampai marouke. Buktinya di Indonesia terdapat berbagai macam budaya, suku, pakaian adat, rumah adat, tradisi, peninggalan-peninggalan bersejarah, bahasa, dan lain-lain.
Bahasa adalah alat komunikasi manusia. Bahasa di Indonesia berbagai macam salah satunya bahasa minang di daerah minagkabau. banyak masyarakat yang belum mengetahui asal dari bahasa minang tsb, kebanyakan dari mereka mengubah bahasa minang tersebut. Padahal masyarakat dahulu telah menentukan kaida-kaidah dalam bahasa minang.
Akibatnya sering muncul konflik antar masyarakat dalam menggunakan bahasa. Mereka beranggapan bahwa itu bahasa daerah mereka sendiri.
A. Asal usul bahasa minang
Perkataan Minangkabau merupakan gabungan dua perkataan, yaitu, minang yang bermaksud “menang” dan kabau untuk “kerbau”. Menurut lagenda, nama ini diperoleh daripada peristiwa perselisihan di antara kerajaan Minangkabau dengan seorang putera dari negara berjiran mengenai isu tanah. Untuk mengelakkan diri mereka dari pada berperang, rakyat Minangkabau mencadangkan pertandingan adu kerbau di antara kedua pihak. Putera tersebut setuju dan menonjolkan seekor kerbau yang besar dan ganas. Rakyat setempat pula hanya menonjolkan seekor sapi yang lapar tetapi dengan tanduk yang telah ditajamkan. Semasa peraduan, sang sapi dengan tidak sengaja merodok tanduknya di perut kerbau yang ganas itu kerana ingin mencari puting susu untuk meghilangkan kelaparannya. Kerbau yang ganas itu mati dan rakyat tempatan berjaya menyelesaikan pergelutan tanah itu dengan cara yang aman. 
B. Keberadaan bahasa minang
Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan khususnya di wilayah Sumatra Barat, bagian barat propinsi RIAU serta tersebardi berbgai kota di seluruh Indonesia.
Secara historis, daerah sebar tutur Bahasa Minangkabau meliputi bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatra Barat. Batas-batasnya biasa dinyatakan dalam ungkapan Minang berikut ini:
Dari Sikilang Aia Bangih
hingga Taratak Aia Hitam.
Dari Durian Ditakuak Rajo
hingga Sialang Balantak Basi.
Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang.
Bahasa Minangkabau juga menjadi bahasa lingua franca di kawasan pantai barat Sumatra Utara, bahkan menjangkau jauh hingga pesisir barat Aceh. Di Aceh, penutur bahasa ini disebut sebagai Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa Minangkabau juga dituturkan oleh masyarakat Negeri Sembilan, Malaysia yang nenek moyangnya merupakan pendatang asal ranah Minang sejak berabad-abad silam.
Untuk komunikasi antar penutur bahasa Minangkabau yang sedemikian beragam ini, akhirnya dipergunakanlah dialek Padang sebagai bahasa baku Minangkabau atau disebut Baso Padang atau Baso Urang Awak. Bahasa Minangkabau dialek Padang inilah yang menjadi acuan baku (standar) dalam menguasai bahasa Minangkabau.
C. Dialek bahasa minang
Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antar kampung yang dipisahkan oleh sungai sekalipun sudah mempunyai dialek yang berbeda. Perbedaan terbesar adalah dialek yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Muko-Muko, Bengkulu.
Selain itu dialek bahasa Minangkabau juga dituturkan di Negeri Sembilan, Malaysia dan yang disebut sebagai Aneuk Jamee di Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Berikut ini adalah perbandingan perbedaan antara beberapa dialek:
Bahasa Indonesia/ Bahasa Melayu: Apa katanya kepadamu?
Bahasa Minangkabau “baku”: A keceknyo jo kau?
Mandahiling Kuti Anyie: Apo kecek o kö gau?
Padang Panjang: Apo keceknyo ka kau?
Pariaman: A kate e bakeh kau?
Ludai: A kecek o ka rau?
Sungai Batang: Ea janyo ke kau?
Kurai: A jano kale gau?
Kuranji: Apo kecek e ka kau?
Ada beberapa dialek yang berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara bahasa Minangkabau dengan Bahasa Indonesia baik dalam bentuk maupun tatabahasanya. Perbedaan yang terjadi hanya pada ejaan terutama dalam pemakaian Vowel.
a. Vowel a dan e dalam Bahasa Indonesia menjadi “o” dalam Bahasa Minangkabau.
Apa menjadi “Apo”.
Mana menjadi “Mano”
Petang menjadi “Patang”
Senja menjadi “Sanjo”
Tua menjadi “Tuo”
b. Penutur Bahasa Minang kadangkala menghilangkan suku kata diakhir sebuah kata. Misalnya:
Kemana menjadi “Kamano” dan diucapkan “kama”
Mengapa jadi “Mangapo” dan diucapkan “Manga”
Berapa jadi “Barapo” dan diucapkan “Bara”
Bagaimana jadi “Bagaimano” dan diucapkan “Baa”
c. Lihat contoh kalimat dibawah ini:
Apakah yang akan kamu kerjakan?
Dalam Bahasa Minangkabau menjadi a tu nan ka karajo ang
atau apa sebabnya maka ia lari?
menjadi ba a mangko inyo lari?
d. pada beberapa kata sambungan ada yang tidak dikenal akar silsilahnya seperti kata sambungan “jo”, misalnya dalam kalimat jo a wa ang ka mari? (dengan apa kamu kemari?). Perkataan jo disini memiliki arti dengan. Ada juga pengertiannya yang lain pada kalimat berikut “itulah jannyo hambo” (itulah kata hamba).
e. Dalam kata-kata kiasan (pantun), prosa dan puisi Minangkabau, penggunaan kata “jo” memiliki pengertian yang sangat besar. Perhatikan pantun berikut:
Anak urang di sungai lasiah
Nak mudiak ka Batang Hari
Mandaki jalan babelok
Manurun ka Bangka Hulu
Kok tasuo silang jo salisiah
Sarato banta jo ka lami
Dibaiki sajo jo nan elok
Itu banamo urang panghulu
f. Dalam bahasa Minangkabau, ada huruf mati yang dihilangkan atau dipertukarkan, misalnya dalam perkataan habis. huruf h dihilangkan dan huruf s diganti dengan huruf h sehingga menjadi abih, manis menjadi manih, hangus menjadi anguih.
Ada juga beberapa daerah menghilangkan r pada suku kata kedua, umpamanya garam menjadi ga-am, beras menjadi bareh atau ba-eh dan sebagainya.
g. Di daerah Pariaman, suku kata atau perkataan “nya” diganti dengan huruf hidup e. umpamanya kapan dia kemari? menjadi bilo wak e kama-i?, roman apa romannya menjadi coman a coman e.
h. Dalam bahasa Minangkabau ada bunyi majemuk yang terdiri dari vokal u dan a (ua), u dan i (ui) i dan e (ie) a dan i (ai). Vokal kedua dalam bunyi majemuk itu pendek sekali dan kurang sempurna bunyinya, disebut dengan vokal pelancar. Vokal ini seharusnya dinyatakan dengan vokal yang bertanda (pepet) di atasnya

DIALEK BAHASA JAWA


Dialek adalah cara pengucapan bahasa yang berbeda di tiap daerah. Untuk Bahasa Jawa, di pulau jawa dibagi 3 bagian:
Jawa bagian Barat
  1. dialek Banten
  2. dialek Cirebon
  3. dialek Tegal
  4. dialek Banyumasan
  5. dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Tiga dialek terakhir biasa disebut Dialek Banyumasan.
Jawa bagian Tengah
  1. dialek Pekalongan
  2. dialek Kedu
  3. dialek Bagelen
  4. dialek Semarang
  1. dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
  2. dialek Blora
  3. dialek Surakarta
  4. dialek Yogyakarta
  5. dialek Madiun
Kelompok kedua ini dikenal sebagai bahasa Jawa Tengahan atau Mataraman. Dialek Surakarta dan Yogyakarta menjadi acuan baku bagi pemakaian resmi bahasa Jawa (bahasa Jawa Baku).
Jawa bagian Timur
  1. dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
  2. dialek Surabaya
  3. dialek Malang
  4. dialek Jombang
  5. dialek Tengger
  6. dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)
Kelompok ketiga ini dikenal sebagai bahasa Jawa Wetanan (Timur)

PEMBAGIAN DIALEK LOMBOK

Ngopi dari :
BAIQ DESI LUTHFIANA

Bahasa Sasak yang berkembang di Pulau Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya (Jaelani, 2007. http://sasak.org/2007/11/29/menelusuri-asal-usul-papuk-baloq-kita. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2009 pukul 13.31). 

Pada mulanya, dialek dalam bahasa Sasak dibagi menjadi 5 dialek. Thoir, dkk (1986: 20-24) menamai kelima dialek ini sebagai dialek Meno-Mene, Ngeno-Ngene, Ngeto-Ngete, Ngeno-Mene, dan Meriak-Meriku. Pembagian nama dialek ini didasarkan pada bentuk realisasi makna ’begini’ dan ’begitu’ pada daerah yang diamatinya. Menurut Mahsun (2006: 3-4), pembagian dialek ini belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebab, peneliti tidak konsisten dalam menentukan dialek tersebut. Makna ’begini’ memiliki 22 realisasi dan makna ’begitu’ memiliki 23 bentuk realisasi. Ini berarti, jika pembagian dialek didasarkan pada bentuk realisasi kedua makna kata di atas, akan terdapat 22 atau 23 dialek dalam bahasa Sasak.

Oleh karena itu, Mahsun (2006: 72), dalam penelitiannya yang berjudul Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Sasak di Pulau Lombok, mengelompokkan bahasa Sasak menjadi 4 dialek, yakni Dialek a-a sebagai padanan Dialek Bayan (DB), Dialek a-e sebagai padanan Dialek Pujut (DP), Dialek e-e sebagai padanan Dialek Selaparang (DS), Dialek a-o sebagai padanan Dialek Aibukaq. Hal ini didasarkan pada korespondensi vokal pada struktur [V-V] keempat dialek tersebut. Pertimbangan ini lebih realistis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setelah penulis amati, bentuk-bentuk yang digunakan dalam bahasa Sasak Dialek a-e memang memiliki korenspondensi vokal akhir [a-e], misalnya bentuk mate ‘mata‘, ape ‘apa‘, bate ‘bata‘, Praye ‘Praya‘, dan kace ‘kaca‘. 

MENGENAL DIALEK LOMBOK


Pulau Lombok berada di antara pulau Bali dan pulau Sumbawa. Abdul Syakur (2006:13) menjelaskan bahwa kata Lombok berasal dari kata loumbouk yang dalam bahasa Sasak berarti lurus. Pengertian tersebut didasarkan atas pendapat bahwa kebanyakan orang di pulau itu berhati lurus, jujur, tak suka bertingkah macam-macam, sehingga disebut dengan pulau lurus (loumbouk)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mahsun (2006), bahasa Sasak terdiri atas empat buah dialek yaitu dialek Bayan, dialek Pujut, dialek Selaparang, dan dialek Aik Bukaq. Pembagian dialek yang dihasilkan oleh Mahsun didasarkan pada pengkajian dengan menggunakan berkas isoglos. Langkah yang ditempuh dalam penelitian itu ialah dengan mengamati keseluruhan peta isoglos yang dihasilkan berdasarkan beberapa daerah pengamatan yang dianggap dapat mewakili seluruh wilayah pemakaian bahasa Sasak. Setelah itu peta yang memperlihatkan isoglos korespondensi dan variasi bunyi dihitung persentasenya dan dipadukan dengan kategori penentuan isolek sebagai dialek pada rumus penentuan berkas isoglos. Setelah langkah tersebut selesai, kemudian diamati ciri 121 linguistik yang menjadi penanda dialek yang telah ditentukan tersebut dengan melihat realisasi vokal [a] pada silabe ultima dan penultima dalam sebuah kata. Berdasarkan langkah-langkah penelitian di atas, maka keempat dialek tersebut masing-masing dapat pula disebut sebagai dialek [a-a] untuk dialek Bayan, dialek [a-∂] untuk dialek Pujut, dialek [∂-∂] untuk dialek Selaparang, dan dialek [a-o] untuk dialek Aik Bukaq. Contoh realisasi vokal tersebut dalam kata, misalnya untuk glos laki-laki dalam dialek Bayan disebut [mama], untuk dialek Pujut [mam∂], untuk dialek Selaparang [m∂m∂], dan untuk dialek Aik Bukaq disebut [mamo].
 
Copyright (c) 2010 ANTROPOLOGI SMANSATYA. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.